Perihal Kalbu

January 8, 2018

A poem about chaos within tranquility; death before rebirth; rising amidst uncertainty and all the emotions associated with human life.

 

 

 

Mungkin bila kau sedar tentang hati, kau tahu semua akan mati

 

Bukan sekadar mati, tapi mampus, selayaknya mampus seperti kabus, yang lenyap menjelang terbit matahari

 

Dan mungkin juga apabila kau sedar tentang cinta, kau tahu semua tidak seindah cerita

 

Timbul tenggelam suatu kehidupan bukan gurauan, bukan mainan

 

Maka harusnya, jangan pernah dipandang enteng hati kalian

 

Mungkin kau pernah terfikir apa itu jiwa apa itu nurani, apa itu minda

 

Semua itu cuma sampah, bila tiada terbit sekecil dan sekelumit keikhlasan pun dalam diri kamu, dalam diri kita semua

 

Kesempurnaan, bisa jadi rencana dan juga bisa jadi bencana

 

Harusnya kehidupan ditanggung setabah secekal, walau tidak sempurna

 

Biar dibujak, biar dirobek!

 

Berdirilah dan tetap tersenyum, sahabat

 

Terima kasih, untuk setiap kepahitan dan kemanisan

 

Sesungguhnya tiada penolakan untuk setiap penerimaan semula

 

Bukan untuk aku, bukan untuk kamu

 

Mungkin untuk mereka

 

 

 

 

CONTRIBUTOR

NASREEN HAMID

 

Nasreen Hamid is an ailurophile with a devil-may-care attitude. 

He possesses secret talents and is based in SA/BKI.

 

Please reload

Our Recent Posts

Crime Prevention in the 21st century: When Minority Report Becomes Reality

January 31, 2018

The Pit

January 25, 2018

Why You Will Never Be Great

January 13, 2018

1/1
Please reload

Tags

Please reload

©2017 by Think-LAH!. Proudly created with Wix.com

  • Instagram Social Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Google+ Icon